Asal Mula dan Makna ‘Acungan Jempol’

Bila anda memiliki akun facebook, anda pasti terbiasa melihat ikon kecil berbentuk jempol mengacung ke atas di bagian bawah setiap status, foto, catatan, artikel dan halaman. Facebook menyediakan ikon dengan tambahan kata “suka” (like) sebagai alternatif lain berkomentar untuk berinteraksi dengan sesama teman dalam situs jejaring sosial tersebut. Seringkali kita menjawab teman yang mengklik ikon ini sebagai komentar dengan kalimat “terima kasih atas (acungan) jempolnya”. Ikon acungan jempol serupa juga dipakai situs jejaring sosial lain, forum-forum diskusi, situs berita, situs belanja, situs resmi pemerintah, blog organisasi, blog tokoh, maupun blog pribadi. Ikon pada situs ini dapat menandakan bahwa semakin banyak jumlah pengunjung yang mengkliknya maka makin besar pula yang menyukainya.

Acungan jempol sebagai sebuah komentar dalam media komunikasi terutama media cetak sebenarnya sudah sejak lama di pergunakan jauh sebelum facebook. Para kritikus buku, artikel dan film biasanya menyertakan ‘acungan jempol’ (thumbs up) untuk film/buku yang dinilainya bagus. Acungan jempol memang secara umum diterima sebagai tanda persetujuan terhadap sesuatu hal dengan fakta bahwa “jempol yang mengacung ke atas” berarti BAIK dan “jempol yang mengarah ke bawah” berarti TIDAK BAIK.

Tapi siapakah sesungguhnya yang menciptakan ‘acungan jempol’? Acungan jempol adalah gerakan isyarat tangan yang sudah ada sejak lebih dari 400 tahun yang lalu. Isyarat ini dihubungkan dengan pertarungan gladiator Romawi Kuno. Para penonton akan menutup jempol mereka jika mereka ingin membiarkan gladiator yang kalah agar tetap hidup, karena gladiator tersebut dianggap telah bertarung dengan sangat berani. Gerak isyarat ini secara bertahap berubah dari ‘acungan jempol yang ditutupi’ menjadi ‘acungan jempol’, seperti yang dikatakan Desmond Morris dalam bukunya Body Talk. Jempol ke arah bawah menandakan sebaliknya.


Sebuah adegan dalam film ‘GLADIATOR’

Selama Perang Dunia II, pilot-pilot tempur Amerika Serikat di Kapal Induk mengadopsi acungan jempol untuk memperingatkan awak dek bahwa mereka siap untuk lepas landas dan bahwa blok roda bisa dilepas. Kemungkinan besar mereka mengikuti gerakan isyarat ini dari para penerbang pertama Cina yang terlibat dalam Perang Dunia II. Mereka akan berkata “ting hao de” yang berarti “sangat bagus” sambil mengacungkan jempolnya yang mengandung makna “nomor satu”. Perbuatan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada para pejabat. Acungan jempol akhirnya kemudian ditiru oleh pilot-pilot pesawat tempur di seluruh dunia.

Di negara lain seperti Brazil, China, Italia, dan Hungaria, acungan jempol kepada orang lain berarti bahwa orang tersebut ‘Nomor Satu’. Rusia, Finlandia dan Australia juga menggunakannya sebagai ganti kata dari luar biasa, baik atau bagus. Di Inggris isyarat acungan jempol ini kadang pula dipakai sebagai salam perpisahan kepada teman baik yang baru dikenalnya.

Namun berhati-hatilah menggunakan isyarat acungan jempol ini di negara-negara tertentu. Sebagian negara di Dunia boleh saja mengartikannya hal yang baik, tapi negara-negara Timur Tengah mendefinisikannya sebagai penghinaan dan merendahkan orang. Afrika Barat, Amerika Selatan, Iran, Irak termasuk diantaranya. Bangladesh, Thailand dan Italia juga memaknainya dengan arti negatif. Acungan jempol bagi mereka sama negatifnya dengan isyarat ‘jari tengah’.

Selain itu, isyarat acungan jempol dapat pula diartikan lain bila dipakai pada situasi yang berbeda. Pejalan kaki di pinggir jalan memakainya untuk meminta tumpangan kendaraan pada orang lain yang melalui jalan yang sama dengannya. Penyelam berisyarat acungan jempol untuk memberitahu bahwa dia akan berhenti menyelam atau naik. Penjaga pantai menggunakannya sebagai isyarat komunikasi dengan sesama penjaga pantai. Para atlet akan memberi acungan jempol kepada orang lain untuk memberitahu kalau dia baik-baik saja, bila terjadi kecelakaan dalam perlombaan. Sementara supir truk memanfaatkan isyarat ini untuk memberitahu supir lain bahwa ada polisi yang melakukan patroli, dengan memperlihatkan jempol ke arah bawah.

Jadi sebaiknya mulailah memperhatikan: Pada siapa anda mengacungkan jempol anda! Anda tak ingin terlibat masalah hanya gara-gara ‘acungan jempol’,kan?